Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SKRIPSI KARAKTER BUILDING, 2016/2017. Karya abadi

 

MANFAAT  HUBUNGAN CHARACTER BUILDING  PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS IX  DI MTs NW KETANGGA

KECAMATAN SUELA LOMBOK TIMUR

TAHUN PEMBELAJARAN

2016/2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SKRIPSI

 

 

 

 

Oleh:

 

KARYA ABADI

NIMKO : 2011.4.029

 

 

INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI NW LOMBOK TIMUR

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

2016

 

SKRIPSI

 

 

MANFAAT  HUBUNGAN CHARACTER BUILDING  PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS IX  DI MTs NW KETANGGA

KECAMATAN SUELA LOMBOK TIMUR

TAHUN PEMBELAJARAN

2016/2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SKRIPSI

 

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

 

OLEH:

 

KARYA ABADI

NIMKO : 2011.4.029.

 

INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI NW LOMBOK TIMUR

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

2016


PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

 

 

Skripsi MANFAAT  HUBUNGAN CHARACTER BUILDING PADA MATA PLAJARAN AKIDAH AKHLAK KELAS IX  DI MTS NW KETANGGA KECAMATAN SUELA, LOMBOK TIMUR TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017

Oleh: KARYA ABADI, NIMKO:

 

 

 

Telah di Setujui Oleh Dosen Pembimbing

Pada Hari..................

Tanggal............./..................2016

 

Dosen Pembimbing I,                                                             Dosen Pembimbing II,

 


(H.Moh. JAELANI, M.Pd.I)                                   (MARUDIN, M.Pd.I)

NIY:                                NIY:

 

 

 

Mengetahui,

DEKAN,FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI NW

LOMBOK TIMUR

 

 

 

(ROSLY HADY, S.Ag.,M.Pd)

NIY:

 

 

 

NOTA  DINAS

 

Lombok Timur,.............

 

Hal    : Munaqasah Skripsi                             

            Kepada

            Yth.Rektor IAIH NW  Lombok Timur

            Di

            Anjani

 

            Bismillaahi wabihamdihi

            Asslaamu’alaikum Wr.Wb

 

Setelah diperiksa dan diadakan perbaikan sesuai petunjuk,maka kami  berpendapat bahwa skripsi  saudara:

            Nama                           :  KARYA ABADI

            Nimko                          :  20

            Program/Jurusan          :  S1 / Pendidikan Agama Islam

Judul                           :  Manfaat  Hubungan Character Building Pada Mata

    Pelajaran Akidah Akhlak Kelas IX  di MTs NW Ketangga

    Kecamatan Suela, Lombok Timur Tahun Pelajaran 2016

 

       Telah memenuhi syarat untuk disidangkan pada munaqasah skripsi jurusan pendidikan agama  islam fakultas tarbiyah untuk itu kami berharap agar skripsi ini dapat segera dimunaqasahkan.

 

Demikian dan atas perhatiannya diucapkan terimakasih

 

Wallaahulmuwaffiqu walhaadi ilaa sabilirrasyaad

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb

 

 

 

Dosen Pembimbing I,                                                 Dosen Pembimbing II,

 

 


(H.Moh. JAELANI, M.Pd.I)                                   (MARUDIN, M.Pd.I)

NIY: 20                                NIY:

 

 

 

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

 

Skripsi MANFAAT  HUBUNGAN CHARACTER BUILDING PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK KELAS IX  DI MTS NW KETANGGA KECAMATAN SUELA, LOMBOK TIMUR TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017

Oleh: KARYA ABADI, NIMKO

 

 

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada :

                        Hari                 :

                                    Tanggal           :

 

 

Dewan Penguji

 

1.      Ketua/anggota sidang                      :............................ (                 )

2.      Sekretaris/anggota sidang                :............................ (                 )

3.      Anggota (Netral)                              :..............................(                )

 

 

 

 

 

 

 

Mengetahui,

DEKAN,FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI NW

LOMBOK TIMUR

 

 

 

(ROSLY HADY, S.Ag.,M.Pd)

NIY:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MOTTO

’’Hidup di Tengah Persaingan Yang Luar Biasa, Kita Harus Punya Tiga   Prinsif, Belajar, Belajar dan Belajar”

( Sumber : Pesan Orang Belanda Muslim )

 

 

PERSEMBAHAN

Dengan rendah hati karya tulis ini kupersembahkan untuk :

Al-Magfurulahu Maulanasyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid yang terus menerus mendoa’kan murid-muridnya agar mendapatkan ilmu yang bermamfaat dan selamat dunia akhirat masuk surga bigairi hisab.

Untuk Almamater tercinta yang telah mengantarkan saya kepada suatu kesuksesan yang tak ternilai harganya, yang membedakan keahlianku dengan orang lain. Almamater tercintaku ini akan selalu ku kenang dalam hidupku dan tak akan pernah ku lupakan sampai kapanpu karena almamater ini yang mengantarkan aku kepada kesuksesan yang tak ternilai harganya.

Cintaku akan selalu mengalir kepadamu wahai almamaterku, dan tak akan pernah pudar sampai kapanpun, karena engkaulah pelita harapan yang telah memperkenalkan aku berbagai banyak hal dalam bidang pendidikan. Terima kasil almamaterku engkau selalu ada di hatiku

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

                     Segala puji bagi Allah SWT yang telah  melimpahkan karunianya kepada kami sehinnga tugas penulisan Skripsi ini dapat terselesaikan tanpa ada halangan sedikitpun.

                     Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah berhasil membimbing umat manusia dari kegelapan menuju ketakwaan ( insan yang berbudi luhur dan berakal )

                     Tulisan ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian  persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam  pada Jurusan Pendidikan Agama Islam di Institut Agama Islam Hamzanwadi NW Fakultas Tarbiyah Lombok Timur.

      Oleh karena itu dengan selesainya tugas ini kami sampaikan terima kasih kepada semua yang telah membantu kami diantaranya :

1.    Rektor dan Pembantu Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi NW Lomok Timur

2.    Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Hamzanwadi NW Lombok Timur

3.    Dosen pembimbing I dan pembimbing II yang  dengan sabar dan ikhlas membimbing kami

4.    Ketua jurusan Pendidikan Agama Islam ( PAI ) Fakultas Tarbiyah Institut Agma Islam Hamzanwadi NW Lombok Timur

5.    Semua dosen dan staf serta segenap civitas akademika IAI Hamzanwadi NW Lombok Timur

6.    Bapak Kepala MTs NW Ketangga yang telah memberikan bantuan berupa informasi yang berguna selama penyusun mengadakan penelitian

7.    Kedua orang tuaku  dan kakak ku yang telah  banyak membantu  menemani dan memberikan motifasi dalam menyelsaikan tulisan ini

8.    Kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis dalam melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi ini.

                      Akhirnya peneliti menyadari bahwa pembuatan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka keritik dan saran yang bersipat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini,semoga hasil penelitian ini dapat bermampaat bagi penulis peribadi, pembaca dan pendidik pada umumnya.

 

Anjani,....................2016

Penulis

 

 

Karya Abadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRAK

Karya Abadi. Manfaat Hubungan Caracter Building Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas IX MTs NW Ketangga Kecamatan Suela

 

Proses kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan untuk keseluruhannya,melalui kegiatan belajar mengajar di harapkan dapat tercapai tujuan pendidikan dalam bentuk perubahan tingkah laku siswa,yang sesuai dengan yang diharapkan oleh guru.Tujuannya untuk mengetahui problematika yang dihadapi dalam meningkatkan perubahan tingkah laku siswa serta meningkatkan minat mengajar guru, apabila Di terapkannya hubungan character building.

Jenis penelitian ini, adalah penelitian kuantitatif dimana dalam penelitian kuantitatif ini menggunakan hubungan dua variable dan sampel berjumlah 15 siswa.tehnik pokok pengumpulan data dengan menggunakan angket pertanyaan yang disebarkan kepada sampel ,variable bebas  dalam penelitian ini adalah hubungan character building, variable terikatnya adalah tingkah laku peserta didik dan minat mengajar guru

Berdasarkan hasil penelitian manfaat hubungan character building yang sudah di terapkan  dengan baik di sekolah dapat berpengaruh terhadap tingkah laku peserta didik dan minat mengajar guru di Mts NW ketangga.Di dalam penelitian ini, peneliti memilih tempat penelitian di pondok pesantren MIFTAHUL FA’IZIN NW KETANGGA dikarenakan lokasi penelitian sangat dekat dengan lokasi rumah peneliti agar bisa memudahkan diskusi atau konsultasi lebih mudah dengan kepala sekolah, dewan guru, dan para siswa agar bisa mendapatkan data yang valid dan lebih jelas.

Dalam skripsi ini Peneliti juga menggunakan uji validasi data, agar data bisa diketahui dengan valid, dan dalam uji validasi tersebut mendapatkan data yang sangat bagus, dan uji validasi ini menunjukkan hasil yang signifikan, atau dengan kata lain reliabilitas instrumen baik atau hasil instrumen angket dapat di percaya.

Di harapkan kepada seorang pendidik agar tidak membeda-bedakan siswa yang datu dengan yang lain agar bisa melihat karakter-karakter siswa yang berbeda-beda sehingga terciptalah keharmonisan dalam kegiatan belajar mengajar.

 

Kata Kunci : Hubungan dan Caracter Building

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .....................................................................................             i

HALAMAN JUDUL ......................................................................................  i

HALAMAN PERSETUJUAN ....................................................................... ii

NOTA DINAS ................................................................................................ ii

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii

HALAMAN MOTTO .................................................................................... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... v

KATA PENGANTAR ................................................................................... vi

ABSTRAK ................................................................................................... viii

DAFTAR ISI ................................................................................................... x

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1

a.       Latar Belakang Masalah .................................................................... 1

b.      Rumusan Masalah .............................................................................. 4

c.       Manfaat Penelitian ............................................................................. 5

d.      Hipotesis. .................................................................................... ....... 5

e.       Definisi operasional……………………………………………..       5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ....................................................................... 7

a.       Pengertian karaktermenurut bahsa (Etimologis) ................................ 9

b.      Pengertian karakter menurut istilah (terminologis) .......................... 13

c.       Pendidikan karakter menurut para ahli............................................. 16

d.      Hasil pendidikan karakter ................................................................ 18

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 20

a.       Desain penelitian .............................................................................. 20

b.      Populasi dan sampel ......................................................................... 20

c.       Instrument penelitian........................................................................ 21

d.      Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 22

e.       Metode Analisis Data ...................................................................... 26

f.       Keabsahan Data ............................................................................... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...........................       33

a.       Gambaran Umum Lokasi Penelitian ................................................ 30

b.      Penyajian dan analisis data.......................................................... .    50

c.       Pembahasan ……………………………………………….... ... .    52

BAB V PENUTUP……………………………………………………………            63

a.       kesimpulan...................................................................................      63

b.      Saran-Saran ................................................................................ .     63

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………           65

LAMPIRAN-LAMPIRAN

                                                DAFTAR TABEL

Tabel  

1.      Keadaan buku pokok MTs NW Ketangga

2.      Keadaan Guru MTs Nw Ketangga

3.      Keadaan siswa MTs Nw Ketangga

4.      Nama siswa yang di pilih sebagai sampel

 

 

 

 
BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Pemerintah Telah Membuat kebijakan pembangunan nasional pembangunan karater bangsa tahun 2010-2015. Hal ini di maksudkan sebagai sarana untuk mencapai cita-cita bangsa indonesia yang berlandaskan empat pilar kebangsaan yaitu: pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika. Dengan demikian di mungkinkan adanya kesamaan pemahaman, pandangan dan gerak langkah dalam mencapai tujuan. Ruanglingkup sasaran pembangunan karakter bangsa meliputi: Keluarga, Satuan Pendikan, Pemerintahan, Masyarakat Sipil, Masyarakat Politik.

Dalam Melaksanakan Pembangunan Karakter melalui pendidikan, di lakukan pembaharuan pendidikan moral yang telah berlangsung lama disemua jejang pendidikan di indonesia, tujuan utamanya adalah mewujudkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pancasila, pola pikir, pola rasa, dan pola prilaku sehari-hari dalam kehidupan masyarakat indonesia secara keseluruhan dengan demikian pancasila dapat dinyatakan sebagai jalan hidup bangsa indonesia dalam pengertian sesungguhnya.

1

 
Pencapaian tujuan mulia tersebut membutuhkan usaha nyata secara sinergi dari semua institusi pendidikan formal, non formal maupun informal dengan koordinasi yang bagus dan tata kerja yang benar. Untuk itu di perlukan acuan teoritis dan praktis relevan dan mutakhir, supaya masyarakat terdidik Indonesia biasa beramal dengan landasan ilmu, dalam halini ilmu yang terkait dengan pendidikan karakter, yang paling bertanggung jawab untuk menyediakan acuan pendidikan teoritis dan praktis tersebut adalah institusi pendidikan, terutama pendidikan dari orang tua anak itu sendiri.

 Dalam Al-Qur’an telah di tegaskan bagaimana anak itu di tuntut untuk mempunyai karakter yang baik kepada kedua orang tuanya.

$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ $·Z»|¡ômÎ) ( çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $\döä. çm÷Gyè|Êurur $\döä. ( ¼çmè=÷Hxqur ¼çmè=»|ÁÏùur tbqèW»n=rO #·öky­ 4 #Ó¨Lym #sŒÎ) x÷n=t/ ¼çn£ä©r& x÷n=t/ur z`ŠÏèt/ör& ZpuZy tA$s% Éb>u ûÓÍ_ôãÎ÷rr& ÷br& tä3ô©r& y7tFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥n?tã 4n?tãur £t$Î!ºur ÷br&ur Ÿ@uHùår& $[sÎ=»|¹ çm9|Êös? ôxÎ=ô¹r&ur Í< Îû ûÓÉL­ƒÍhèŒ ( ÎoTÎ) àMö6è? y7øs9Î) ÎoTÎ)ur z`ÏB tûüÏHÍ>ó¡ßJø9$# ÇÊÎÈ  

 

Artinya “Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya engan susah payah (pula),masa mengandung dan menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdo’a” “ya- tuhanku, berilah aku petunjuk, agar aku mensyukuri nikmatmu yang telah engkau limpahkan kepadakudan kepada kedua orag tuaku dan aku dapat berbuat kebajikan yang engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku, sungguh aku bertaubat kepada engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim”. (Q.S.Al-Ahqaf/26:46:15)[1]

 

Mengenai pembentukan karakter di ruang lingkup sekolah, memang sulit di terapkan secara langsung, harus melakukan atau membuat tradisi sekolah yang berkaitan dengan pembentukan karakter, dengan adanya tradisi yang baik dalam ruang lingkup sekolah, secara tidak langsung pendidikan sudah merubah karakter  siswa ketika dia memasuki sekolahnya, begitu juga dengan orang lain yang masuk dalam lingkup sekolah, dengan tidak sengaja dia akan langsung mengikuti tradisi sekolah yang dia masuki.

Tradisi yang baik itu masih sebagian sekolah yang bisa menerapkan, karena menurut beberapa sekolah yang pernah saya tanyakan, apa yang membuat tradisi yang baik itu belum bisa diterapkan secara maksimal?  jawaban mereka sama, menyusun program, dan memulainya itu sangat gampang, tapi yang paling sulit adalah ketika tradisi itu sudah berjalan namun untuk menjaganya itu yang paling sulit.

Alasan penulis mengambil judul ini adalah, karena penulis merasa skripsi-skripsi para mahasiswa lain hanya membahas prestasi dan angka nilai saja yang di bahas, tidak pernah menyinggung karakter siswa. Dan alasan kedua adalah dengan adanya pembentuan karakter kita bisa mengarahkan siswa kepada karakter yang berbeda dengan yang lain dan menjadi hal yang unik bagi para siswa yang butuh perbedaan karakter untuk membedakan dirinya dengan yang lain.

Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak mulia, pendidikan nasional mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan beradab, bangsa yang bermartabat serta mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap dan kreatif dan menjadi warga negara yang baik dan beranggung jawab.

Mengenai sistem ajaran islam dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu bagian akidah (keyakinan), bagian syari’ah (aturan-atruran hukum tentang ibadah dan mu’amalah), dan bagian akhlak (karakter) ketiga bagian ini tidak bisa dipisahkan tetapi harus menjadi satu kesatuan yang utuh yang saling mempengaruhi. Akidah merupakan pondasi yang menjadi tumpuanuntuk terwujudnya syari’ah dan akhlak. Sementara itu syariah berbentuk bangunan yang hanya bisa terwujud bila dilandasi oleh akidah yang benardan akan berpengaruh  pada pencapaian akhlak (karakter) yang seutuhnya. Dengan demikian, akhlak/karakter sebenarnya merupakan hasil atau akibat terwujudnya bangunan syari’ah yang benar yang di landasi dengan pondasi akidah yang kokoh. Tanpa akidah dan syari’ah mustahil akan terwujud akhlak (karakter) yang sebenarnya.

Dalam proposal ini, akan dikaji prinsip dasar pendidikan karakter yang didasarkan pada pendidikan islam. Prinsip ini didasari oleh pandangan bahwa ruh (jiwa) pendidikan islam adalah pendidikan akhlak atau pendidikan karakter. Oleh karena itu penulis sangat tertarik untuk mengadakan penilitian dengan memilih judul “Manfaat  hubungan Character Building Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas IX  di MTs NW Ketangga Kecamatan Suela, Lombok Timur Tahun Pembelajaran 2016/2017”.

Semoga dengan mengangkat judul ini ada solusi yang tepat untuk bisa diterapkan dalam melaksanakan pendidikan karakter di masa-masa sekarang ini dan bisa berjalan dengan apa yang di harapkan oleh bangsa dan negara.

B.  Rumusan Masalah

Dalam pembahasan ini kami membuat beberapa rumusan masalah untuk lebih terarahnya pembahasan, adapun rumusan masalah penelitian yang kami buat adalah sebagai berikut :

1.    Apakah yang menyebabkan karakter siswa tidak bisa berkembang di MTs. NW Ketangga suela?

2.    Langkah-langkah apakah yang harus di lakukan untuk membentuk karakter siswa MTs. NW Ketangga suela agar berbeda dengan yang lain?

C.    Tujuan Penelitian.

1.    Untuk mengetahui apa saja yang menyebabkan karakter siswa tidak bisa berkembang dalam kegiatan belajar mengajar

2.    Agar bisa mengetahui langkah-langkah apa saja yang bisa di gunakan untuk membentuk karakter siswa di MTs NW Ketangga

D.    Manfaat Penelitian

1.      Manfaat Teoritis

                        Bagi Guru Mata Pelajaranini, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menentukan karakter siswa dalam menerapkan model pembelajaran yang tepat dan sesuai materi.

2.      Manfaat Praktis

a.       Penelitian ini di harapkan dapat mengubah dan memperbaiki karakter

            siswa dalam melaksanakan pebelajaran

b.      Untuk memberikan motifasi atau dorongan bagi peneliti lainya untuk mengembangkan penelitan yang serupa di dalam jangkuan yang lebih luas, agar manfaat character building bisa merata.

E.  Definisi Operasional

Menurut Ratna Megawangi akar kata “karakter” dapat di lacak dari kata latin “kharakter”, “kharassein”, dan “kharax”,yang maknanya “tools for marking”, “to engrave” dan “pointed stake”. Kata ini banyak di gunakan (kembali) dalam bahasa prancis “caractere” pada abad ke-14 dan kemudian masuk dalam bahasa inggris menjadi “character”, sebelum akhirnya menjadi bahasa indonesia “Karakter”.

Character Building adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga “berbentuk ” unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan oang lain. Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tidak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat di bedakan yang satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum berkarakter atau “ berkarakter” tercela).[2]

Dalam kamus Poerwadarminta, karakter di artikan sebagai tabai’at, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
BAB II

KAJIAN TEORITIK

 

A.Kajian Teori

1.Carakter Building

Perkembangan Anak di Pengaruhi Oleh Sekurang-Kurangnya Enam Kondisilingkungannya yaitu: hubungan antar pribadi yang menyenangkan,keadaan emosi, metode pengasuhan anak, peran dini yang di berikan kepada anak, struktur keluarga dimasa kanak-kanak dan rangsangan terhadap lingkungan sekitarnya. Enam faktor inilah yang MenurutRatna Megawangi mejadi titik pijak karakter yang baik. Akar kata “karakter” dapat di lacak dari kata latin “kharakter”, “kharassein”, dan “kharax”,yang maknanya “tools for marking”, “to engrave” dan “pointed stake”. Kata ini banyak di gunakan (kembali) dalam bahasaprancis “caractere” pada abad ke-14 dan kemudian masuk dalam bahasa inggris menjadi “character”, sebelum akhirnya menjadi bahasa indonesia “karakter”. Elizabeth Hurlock (1993)[3]

7

 
Dengan pengertian di atas dapat di katakan bahwa membangun karakter (Character Building) adalah Peroses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga “berbentuk ” unik, menarik, dan berbeda atau dapat di bedakan dengan oang lain. Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat di bedakan yang satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum berkarakter atau “ berkarakter” tercela). Zaim Elmubarok (2009:102).[4]

Mengenai lingkungan,  lingkungan sangat berpengauh dalam pembentukan sebuah karakter dalam hal ini, Lingkungan mana saja yang punya pengaruh dalam pembentukan karakter?

1.Lingkungan Keluarga.

Keluarga merupakan faktor yang paling penting dalam pembentukan karakter. Karena dari sanalah dasarnya. Proses mulai lahir hingga dewasa kita memperoleh didikan dari keluarga. Pentingnya pengaruh keluarga akan menjadi dasar bagaimana kita kelak berperilaku setelah terjun di masyarakat. Contohnya : Hubungan yang harmonis dalam keluarga dapat memberi dampak positif bagi perilaku kita, dan sebaliknya jika hubungan keluarga penuh konflik, maka jangan heran jika suatu saat kita akan mengalami masalah psikologis.

2.Lingkungan Sekolah

Di Lingkungan sekolah pembentukan karakter kita menjadi lebih luas, disini kita dilatih untuk belajar mandiri, berinteraksi dan bersosialisasi. Dalam hal ini peran tenaga pendidik sangat di butuhkan. Sekolah bukan hanya tempat mencetak siswa yang unggul dan berprestasi atau sekedar tempat transfer pengetahuan. Sekolah harus juga berperan untuk pembelajaran yang berorientasi pada nilai nilai moral. Dan pembelajaran untuk siap terjun ke lingkungan masyarakat yang beragam. Sehingga dengan demikian, semakin tinggi pendidikan sekolah yang di enyam oleh seseorang, maka semakin baguslah dia dalam berkarakter. Walau kenyataan yang kita hadapi di bangsa ini sekarang justru adalah kebalikan nya. Banyak pejabat pejabat kita yang memiliki gelar pendidikan yang bagus bagus, namun karakter nya jauh lebih buruk di banding orang orang di kampung.

3.Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat punya pengaruh besar dalam pembentukan karakter kita. Contohnya : Saat kita mengintegrasikan diri ditengah masyarakat, maka perilaku kita pun berangsur-angsur bisa berubah sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat kita berada. Pada dasarnya setiap kita ingin membawa nilai nilai lingkungan keluarga ke masyarakat. Namun faktor ingin diterima di lingkungan masyarakat terkadang menjadi lebih penting dari pada nilai nilai itu sendiri. Karena itu perlu mencermati sebelum memutuskan lingkungan masyarakat tempat kita bersosialisasi. Manusia adalah produk lingkungan, maka jangan sampai pengaruh lingkungan yang buruk merusak karakter yang baik. Seberapa mampu kita membentengi diri dari pengaruh negative lingkungan menjadi penting dalam pembentukan karakter kita. [5]

Di bawah ini merupakan penjelasan dari kedua segi tersebut berdasarkan menurut para ahli, antara lain:

a.    Pengertian Karakter Menurut Bahasa (Etimologis):

1). Majid

Menurut Majid (2011), Karakter berasal dari bahasa Latin yaitu kharakter, kharassaein, dan kharax. Menurut bahasa Yunani character berasal dari kata charassein, yang artinya membuat tajam dan membuat dalam. Sementara menurut bahasa Inggris character, didalam bahasa Indonesia lazim digunakan istilah karakter. 

2).Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional karakter artinya sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, atau bermakna bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak. 

3). Departemen Pendidikan Nasional

(Depdiknas, 2010) individu yang berkarakter baik yaitu seseorang yang berusaha melakukan hal-hal terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama manusia, lingkungannya, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) pada dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosidanmotivasi(perasaan).

b.   Pengertian Karakter Menurut Istilah (Terminologis):

1). Hornby and Parnwell

   Karakter ialah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, dan nama

    atau   reputasi.

2). Tadkirotun Musfiroh

Karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku

 (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).

3). Hermawan Kartajaya

    Karakter ialah ciri khas yang dimiliki suatu benda atau individu

    (manusia).

4). Simon Philips

Karakter ialah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang    melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan.

5). Doni Koesoema A.

Karakter dapat dipahami sama dengan kepribadian, kepribadian dapat dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.

6). Winnie

Winnie paham bahwa terdapat dua buah pengertian dari karakter, Pertama, ialah bagaimana satu individu bertingkah laku. Kedua, karakter berkaitan erat dengan ‘personality’, seseorang dapat dikatakan sebagai ‘individu yang berkarakter’ (a person of character) bila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.

7). Imam Ghozali

Karakter lebih dekat dengan pengertian akhlaq, yang bermakna spontanitas manusia dalam bersikap, dan atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga sewaktu muncul diperlukan pemikiran lagi.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan keadaan asli yang telah ada disetiap jiwa manusia sehingga satu manusia dengan manusia lainnya berbeda. Sering kali pengertian dari kepribadian, watak, dan karakter tertukar pada saat penggunaannya. Jadi tidak aneh, pada saat penggunaannya seorang individu tersebut mengucapkan kata karakter, kepribadian, dan watak. Hal ini tidak akan menimbulkan penafsiran yang jauh berbeda, karena pada dasarnya ketiga istilah kata tersebut adalah sama.[6]

2.Pendidikan Karakter

Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog jerman FW Foerster (1869-1996). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural rousseauian dan istrumentalisme pedagogis deweyan. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang di terjang gelombang positivisme ala comte.

Tujuan pendidikan adalah pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan prilaku dan sikap hidup yang di milikinya. Bagi foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Darikematangan karakter inilah, kualitas pribadi seorang di ukur.  Zaim Elmubarok (2008: 104)[7]

Menurut foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter yaitu: 

1.   Keteraturan interior dimana setiap tindakan di ukur berdasar hierarki

nilai.Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.

2.   Koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada

 prinsip, tidak mudah terombang ambing pada situasi baru atau takut

 risiko, Kohorensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu

 sama lain. Tidak adanya kohorensi meruntuhkan kredibilitas seseorang.

3.   Otonomi Disitu seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai

menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat di lihat dari penilaian atas

keputusan pribadi tanpa pengaruh atau desakan serta tekanan dari pihak

lain.

4. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang

gunamengingini apa yang di pandang baik. Dan kesetiaan merupakan

dasarbagipenghormatan atas komitmen yang di pilih.

Kematangan keempat karakter ini, lanjut foerster, memungkinkan manusia melewati tahap indiviualitas menuju personalitas. “orang-orang modern sering mencampur adukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara indepedensi eksterior dan interior”karakter inilah yang dapat menentukan forma seorang pribadi dalam segala bentuk tindakannya. Zaim Elmubarok (2008: 105)

            Pendidikan karakter adalah terminologi yang mendeskripsikan berbagai aspek dalam pembelajaran guna mengembangkan kepribadian. Proses pembelajaran mengaitkan antara moralitas pendidikan dengan berbagai aspek pribadidan sosial peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Antara lain mencakup penalaran, pembelajaran sosial dan emosional, pendidikan moral, pendidikan keterampilah hidup, memperhatikan dan meynayangi masyarakat, pendidikan kesehatan, mencegah kekerasan, mencegah dan memecahkan konflik, dan etika kehidupan. Peserta didik perlu mempelajari semua itu agar mereka dapat memecahkan permasalahan dalam mengambil keputusan dalam hidupnya dengan tepat (Gholar, 2004). Artinya, pendidikan karakter berkaitan dengan pedoman hidup sehari-sehari yang amat di perlukan guna mengambil keputusan dan memecahkan berbagai problem kehidupan yang di hadapi. Sebagai pedoman hidup, karakter bisa dikembangkan dari berbagai sumber, antara lain bersumberkan agama dan bersumberkan idiologi negara. Setiap agama meiliki karakter bagi pemeluknya. Demikian juga idiologi negara mengandung berbagai dasar etika untuk di kembangkan menjadi karakter bangsa. Karena cakupan karakter luas dan dalam, maka UNESCO telah melakukan kajian dan memproleh kesimpulan ada enam dimensi karakter tersebut. Keenam dimensi karakter ini adalah Trustworthiness, Respect, Responsibility, Fairness, Caring, and Citizenship (Rynders, 2006).

            Trustworthiness bisa di terjemahkan dapat di percaya; apabila seseorang meliliki watak yang dapat dipercaya berarti orang tersebut memiliki kejujuran, integritas, loyalitas dan reliabilitas,. Meskipun tidak ada orang lain yang melihat, orang ini tidak akan mau mengambil yang bukan menjadi haknya, tidak mau bohong, tidak akan pernah selingkuh, senantiasa satu kata dengan perbuatan. Dengan kata lain orang yang memiliki Trustworthiness tidak memerlukan lagi pengawasan eksternal.

            Dimensi kedua, respect merupakan watak yang apabila di miliki oleh seseoang, maka orang ini dalam melakukan hubungan dengan orang lain senantiasa mendasarkan pada “platinum rule”, berbuatlah kepada orang lain sebagaimana orang lain itu mengharapkannya dirimu. Watak respect ini mencakup senantiasa menghormati dan menghargai orang lain tanpa memandang latar belakang yang menyertainya, menjujung tinggi martabat dan kedaulatan orang lain, memiliki sikap toleransi yang tinggi, dan mudah menerima orang lain dengan tulus. Dengan memiliki watak tersebut, maka seseorang akan menghindari tindak kekerasan, tidak akan merendah dan mengeksploitasi orang lain.

Dimensi ketiga, resposibilitymenunjukkan watak bertanggung jawab senantiasa akan menunjukkan siapa dia dan apa yang telah di perbuat. Di samping itu, watak bertanggung jawab akan melahirkan kerja keras dan bekerja sebaik mungkin untuk mencapai prestasi terbaik, why niot the best?

Dimensi keempat, fairness memiliki makna senantiasa mengedepankan standar adil, tanpa di pengaruhi sikap atau perasaan yang di milikinya, ketika berhadapan dengan orang lain. Meskipun dia benci atau sakit hati kepada seseorang, tetapi manakala harus mengambil keputusan, maka perasaan atau sakit hati itu tidak mempengaruhi keputusan yang di ambil. Oleh karena itu dimensi ini erat berkaitan dengan keterbukaan dan objektivitas.

Dimensi kelima, caring berkaitan dengan apa yang ada dalam hati dan pertimbangan etika moral manakala menghadapi orang lain. Seseorang yang memiliki watak caring, senantiasa akan mempergunakan kehalusan budi dan perasaan sehingga bisa berimpati terhadap kegembiraan atau kepedihan yang di alami orang lain. Dimensi ini termanifestasikan dalam wujud kepedulian dalam meghaadapi penderitaan otrang lain, sehingga dengan perasaan kasih syang secara ikhlas mau membantu orang lain yang memerlukannya.

Dimensi terakhir, citizenship berkaitan dengan watak menjadi warga negara yang baik, yang memahami dan melaksanakan tugas dan tanggung  jawab sebagai seorang warga negara. Dimensi ini terjabarkan bagaimana perilaku seseorang sebagai warga masyarakat, warga bangsa dan negara yang baik. Indikator warga negara yang baik adalah kepatuhan dan ketaatan pada peraturan dan undang-undang yang berlaku.agar bisa patuh, taaat dan patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, seorang warga negara yang baik mesti well informed dan sentiasa memahami perkembangan mutakhir yang terjadi di lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara.

Sudah barang tentu keenam dimensi universal dari karakter sebagaimana dijelaskan di atas bisa di kembangkan lebih detail sesuai dengan kondisi bangsa kita, khususnya di kembalikan kepada pancasila, sebagai dasar dan filosofi hidup bangsa indonesia.

c.  Pendidikan Karakter Menurut Para Ahli

1).  Pendidikan Karakter Menurut Lickona

Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

2).  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto

Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.

3).  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya

Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).

4).  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi

Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29). Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.

Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.

Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.[8]

d. Hasil Pendidikan Karakter

Pemerintah, dalam hal ini bidang penelitian dan pengembangan, Pusat Kurikulum Kementrian Pendidikan Nasional (2011:10) telah merumuskan materi pendidikan karakter yang mencakup aspek-aspek sebagai berikut:

1.   Religius: Sikap dan prilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama

 yang di anutnya, toleran terhadap pelaksaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2.   Jujur: Perilaku yang di dasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai

 orang yang selalu dapat di percaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaann.

3.   Toleransi: Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya

4.   Disiplin: Tindakan yang menujukkan prilaku tertib dan patuh pada

 berbagai ketentuan dan peraturan.

5.    Kerja Keras: Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam menghadapi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelsaikantugas dengan sebaik-baiknya

6.   Kreatif: Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau

 hasil baru dari apa yang telah di miliki.

7.    Mandiri: Sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain.[9]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20

 
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.       DesainPenelitian

Desain penelitian adalah merupakan suatu cara atau tahapan-tahapan yang harus di tempuh seorang peneliti dalam mengadakan penelitian untuk mencapai tujuan.

Menurut Hadari Nawawi,Desain  penelitan adalah jenis atau corak penelitian yang di sebut juga dengan metode atau setrategi penelitan. Adapun corak penelitian sangat di tentukan oleh tujuan penelitian itu sendiri (Hadari Nawawi,2005:4).

Dalam skripsi ini pendekatan penelitan yang penulis pergunakan adalah pendekatan kuantitatif asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh ataupun juga hubungan antara dua variabel atau lebih.  karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja manfaat Carakter Building pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IX di MTs NW Ketangga.

B.       Populasi dan Sampel

1.    Populasi

                           Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian(Suharismi,2010:173)[10]

                   Sedangkan menurut pengertian lain bahwa populasi adalah semua individu untuk semua kenyatan-kenyataan yang di peroleh dari sample Yang hendak di generalisasikan (Sugiyono:1990:70).[11]

Berdasarkan pengertian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan individu yang menjadi subyek penelitian Yang akan di generalisasikan.Dalam hal ini,populasi yang di maksud adalah keseluruhan siswa di MTs NW Ketanggaa Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur.

       2. Sample

Sample adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Suharsmini,2010:174)[12]

Pendapat lain mengatakan bahwa sample adalah sebagian dari individu yang akan di teliti(Sutrisno,1990:70)[13]

 Dari kedua definisi tersebut,peneliti berpendapat bahwa kedua definisi di atas ternyata mengandung pengertian yang sama, yaitu sample berfungsi sebagai wakil populasi yang akan di teliti.

C.       Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang di gunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang di amati. Secara spesifik semua fenomena ini di sebut vareabel penelitian.[14]

Secara fungsioal instrumen penelitian adalah untuk memperoleh data yang di perlukan ketika peneliti sudah menginjak pada langkah pengumpulan informasi di lafangan. Tetapi perlu di sadari bahwa dalam penelitian kuantitatif, membuat instrumen penelitian, menentukan hipotesis dan sistematika adalah kegiatan yang harus di buat secara intensif, sebelum peneliti memasuki lapangan atau laboratorium. Karena dalam penelitian kuantitatif, instrumen penelitian memang seharusnya di buat terlebih dahulu secara intensif sebagai kelengkapan proposal penelitian.[15]

D.       Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dapat di lakukan denga berbagai setting, berbagai sumber , dan berbagai cara. Bila di lihat dari setting-nya, data dapat di kumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium dengan metode eksperimen, di rumah dengan bebagi responden, pada suatu seminar, diskusi, di jalan dan lain-lain. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder.

Sumberprimer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak lansung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen. 

Selanjutnya bila di lihat dari segi cara atau teknik penumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat di lakukan dengan: interview (Wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya.

1.   Interview (wawancara)

        Secara umum, wawancara didefinisikan sebagai suatu percakapan atau dialog yang dilakukan oleh dua belah pihak yaitu pewawancara dan yang diwawancara (responden) untuk memberikan jawaban ataspertanyaan itu dengan masksud tertentu (  Moleong, 1999 : 135).[16]

        Wawancara di gunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus di teliti, dan uga peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam yang jumlah respondennya sedikit/kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report,atau setidak-tidaknya pada pengetahuan atau keyakinan priadi. Sutrisno hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu di pegang oleh peneliti menggunakan metode interview dan juga kuesioner (angket) adalah sebagai berikut.

1.    Bahwa subyek (responden) adalah orang yang paling tau tentang dirinya sendiri

2.    Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peniliti adalah benar dan dapat di percaya

3.    Bahwa interprestasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang di maksudkan oleh peneliti.

     Wawancara dapat di lakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon.

        Teknik interview (wawancara) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara terstruktur dan teknik wawancara tidak terstruktur (pembicaraan bebas).

Contoh interview terstruktur:

1.      Bgaimanakah tanggapan anda sebagai siswa tentang akan di berlakukannya full day scholl?

a.       Sangat bagus

b.      Bagus

c.       Tidak bagus

d.      Sangat tidak bagus

2.      Bagaimanakah tanggapan bapak/ibu terhadap pelayanan pendidikan di kabupaten ini?

a.       Sangat bagus

b.      Bagus

c.       Tidak bagus

d.      Sangat tidakbagus

Wawancara tidak terstruktur digunakan untuk mewawancarai subyek utama (santri) serta dewan guru ruang lingkup MTs NW Ketangga, hal ini dimaksudkan agar terciptanya suasana santai sehingga tidak menimbulkan kesan ketegangan, rasa canggung pada sisi responden dan terciptanya hubungan harmonis antara interviewer dan responden juga sangat diharapkan untuk menghindari ketertutupan mereka akan informasi yang peneliti butuhkan.

Contoh interview tidak terstruktur: bagaimanakah pendapat siswa keika melihat para siswa yang lain melanggar norma-norma agama? Dan bagaimanakah pendapat bapak/ibu terhadap kebijakan pemerintah tentang akan di adakannya full day school?

2.   Kuesioner (Angket)

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya ,atau hal-hal yang ia ketahui.

Kuesioner dipakai untuk menyebut metode maupun instrumen, jadi dalam menggunakan metode angket atau kuesioner instrument yang dipakai adalah angket atau kuesioner. (suharsimi, 2010: 194).[17]

Contoh kuesioner (angket):

1.      Bagaimanakah kualitas pendidikan yang sekarang ini?

2.      Bagaimanakah relevansi pendidikan dengan zaman tegnologi sekarang?

3.       Observasi (Pengamatan)

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila di bandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang,maka observasi tidak terbatas pada orang ,tapi juga obyek-obyek alam yang lain.                      

Sutrisno Hadi (1986:145)[18] mengemukakan bahwa,observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis.Dua di  antara yang terpenting adalah proses-proses Pengamatan dan ingatan.

Teknik pengumpulan data dengan observasi di gunakan bila,penelitian berkenan dengan perilaku manusia,proses kerja,gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.

Melalui peroses pelaksanaan pengumpulan data,observasi dapat di bedakan menjadi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation,selanjutnya dari segi intrumensi yang di gunakan,maka observasi dapat di bedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terseruktur.

E.       Metode  Analisis Data

Analisis data dalam penelitian merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dan memerlukan ketelitian serta kekritisan dari penulis. Data disini merupakan segala fakta, angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun informasi, dan informasi disini adalah suatu hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan. (Suharsimi, 1998: 99). [19]

Selain itu juga analisis data yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain,maka untuk menganalisis hasil penelitian dalam Skripsi ini, peneliti menggunakan analisis induktif. Analisis induktif  adalah suatu analisis data yang memungkinkan temuan-temuan  penelitian muncul dari keadaan khusus, tema-tema dominan dan signifikan yang ada dalam data, tanpa mengabaikan hal-hal yang muncul oleh struktur biologisnya ( Moleong, 2006 : 297).[20]

                   Jadi metode ini sangat tepat bila digunakan untuk menganalisis data yang telah peneliti dapatkan dan hasil penelitian di lapangan secara sistematis. Singkatnya metode ini digunakan untuk mengolah data yang dimulai dengan gejala-gejala yang sifatnya khusus kemudian diuraikan menjadi kesimpulan yang sifatnya umum. Dalam penelitian ini data-data yang telah diperoleh dari lapangan nanti akan dibanding-bandingkan, kemudian dianalisis untuk menarik kesimpulan. Untuk lebih jelasnya langkah-langkah analisis data penelitian ini adalah :

1.      Pengumpulan Data

Dilaksanakan dengan pencarian data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan bentuk data yang ada di lapangan, kemudian melaksanakan pencatatan data di lapangan.

2).   Reduksi Data

Apabila data sudah terkumpul langkah selanjutnya adalah mereduksi data, menurut Sugiyono (2007:92) mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok memfokuskan pada hal-hal yang penting, dengan demikian data yang telah  direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya apabila diperlukan.

3). Penyajian Data

Setelah data direduksi maka data selanjutnya adalah mendisplaykan data, melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan tersusun dalam pola hubunngan sehingga akan mudah dipahami di dalam penelitian, penyajian data bisa di uraikan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya, selain itu dengan adanya penyajian data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut

Untuk mengetahui apa saja manfaat hubungan Carakter Building pada siswa MTs NW Ketangga di mata pelajaran akidah akhlak, maka untuk mengolah data yang telah terkumpul penulis menggunakan rumus-rumus yang sesuai dengan pendekatan yang di gunakan.

Jenis pendekatan sesuai dengan masalah dalam penelitian ini adalah pendekatan korelasi, karna penulis ingin mengetahui apa manfaat Carakter Building pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IX di MTs NW Ketangga.

Variabel yang di hubungkan disini adalah variable manfaat Carakter Building sebagai variable X kelanjutannya Tingkah Laku dan Minat Mengajar Guru sebagai variabel Y.

Jenis korelasi yang peniliti gunakan disini adalah Korelasi “Product Moment” yang di peroleh dengan rumus sebagai berikut: (suharsimi ,2010:213)[21]

 

                                                       ∑xy

                                           rxy       

                                                                

                                           

 Keterangan   

       rxy = Konfensien Korelasi antara X dan Y

 xy = Produk dari X dan Y

 =  Hasil pengkuadratan dari variabel x    

 =  Hasil pengkuadratan dari variabel y

Sedangkan untuk mengetahui manfaat  hubungan character building pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IX  di MTs NW Ketangga sehingga pengukurannya dapat di kelompokkan menjadi lima kategori penilaian tersebut:

1.      Untuk Peserta didk

a)      Nilai 90=Tidak pernah

b)      Nilai 80= Pernah

c)      Nilai 70= kadang –kadang

d)     Nilai 60= Jarang

e)      Nilai 50= Sering

2.      Untuk Guru

a)      Nilai 90= Baik sekali

b)      Nilai 80= Baik

c)      Nilai 70= Cukup baik

d)     Nilai 60= Cukup

e)      Nilai 50= Kurang

4).Penarikan Kesimpulan

Setelah melakukan penyajian, maka langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan atau verivication ini di dasarkan pada reduksi data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian, kesimpulan awal, kesimpulan awal masih bersifat sementara dan berubah apabila tidak temukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya, tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal di dukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. 

F.        Keabsahan Data

Menurut L.J. Meleong bahwa keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) menurut versi positivisme dan disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan kriteria dan paradigma sendiri (2004: 171).[22]

Untuk mendapatkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan, pelaksanaan teknik pemeriksaan atas sejumlah kriteria tertentu yaitu:

 

a)      Derajat Kepercayaan (Cridibility).

Kriterium ini berfungsi :pertama, melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat tercapai. Kedua ,mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.

b)      Keteralihan (Trasferability)

Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk melakukan pengalihan tersebut seorang peneliti mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks . dengan demikian peneliti bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya jika ingin membuat keputusan tentang pengalihan tersebut.

c)      Ketergantungan (Dependability)

Ketergantungan artinya data dan hasil yang didapat oleh peneliti harus reliabel atau hasil yang didapatkan sama atau ajeg, artinya data yang didapat oleh peneliti diujicobakan dimanapun hasilnya sama.

d)     Kepastian (Confirmability)

Kepastian yang dimaksudkan bahwa data yang diperoleh oleh peneliti merupakan data objektif bukan data yang subyektif. Artinya subyektifitas informan dalam memberikan data harus dihindari sehingga data tersebut harus dipastikan objektif. Di samping itu data yang akan kita tulis harus dipastikan oleh peneliti bahwa data tersebut realibilitasnya dapat dipastikan.

Dari ke empat kreteria keabsahan data di atas dalam penelitian ini peneliti menggunakan keabsahan data pada derajat kepastian data atau Confirmabilty. Adapun alasan peneliti menggunakan kreteria tersebut bahwa data yang didapatkan peneliti merupakan data yang objektif sehingga dalam penulisan laporan peneliti lebih mudah dan laporan tersebut dapat dipertanggungjawabkan hasilnya dan tidak dipengaruhi oleh subyektivitas.

(http://yusidaimran.wordpress.com/2010/12/15/kriteria-dan-teknik-keabsahan -data/diakses pada tanggal 17 Agustus 2016).[23]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

 

A.     Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Dalam skripsi ini penulis memilih obyek penelitian di Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Wathan Ketangga, karena peneliti menganggap madrasah tersebut madrasah yang harus peneliti cari tau apa prolematika yang terdapat pada madrasah tersebut, lembaga Madrasah Tsanawiyah NW Ketangga adalah salah satu lembaga pendidikan tingkat menengah pertama yang ada di Desa Ketangga  Kecamatan Suela. Madrasah ini bernaung dibawah suatu Yayasan Pondok Pesantren miftahul fai’zin Nahdlatul Wathan ketangga kecamatan suela.

1. Sejarah Singkat Berdiri dan Perkembangan MTs NW Ketangga

MTs NW ketangga  adalah salah satu lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren miftahul fa’izin Nahdlatul Wathan desa Ketangga, yang dimana pondok pesantren ini berada di tengah-tengah perkampungan desa ketangga yang di kelilingi oleh bangunan-bangunan megah masyarakat desa ketangga, mengenai latar belakang berdirinya pondok pesantren di latar elakangi oleh eberapa pertimbangan para tokoh-tokoh agama dan masyarakat desa ketangga mengingat sangat kurangnya madrasah pada saat itu tercetuslah sebuah pemikiran, bagaimana cara kita memudahkan jangkauan sekolah anak-anak kita agar tiidak terlalu jauh tempatnya menimba ilmu agama.

Dalam waktu yang tidak lama, tokoh agama dan tokoh masyarakat berkumpul jadi satu untuk memusyawarahkan bagaimana caranya agar bisa mendirikan sebuah lembaga islam di tengah perkampungan yang pada saat itu sangat membutuhkan sekolah agama. Dengan adanya perkumpulan tersebut, Allah SWT sang maha kuasa menurunkan kekuasaannya di tengah perkumpulan itu dan terciptalah sebuah lembaga islam yang di beri nama Madrasah Tsanawiyah Nhdlatul Wathan Ketangga (MTs NW Ketangga).

Mengenai peresmian Pondok Pesantren Miftahul Fa’izin diresmikan pada tahun 1968, adapun pendirinya adalah langsung maulanasyaikh TGKH.M. ZAINUDDIN ABDUL MADJID sebagai Pengurus Besar Nahdlatul Wathan yang di bina kelanjutannya oleh TGH.M.ZAINUL MUHIBIN, QH.

 

 
MTs NW Ketangga adalah Sebuah lembaga pendidikan islam yang bernaung di bawah Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fa’izin desa ketangga, dan yayasan tersebut bernaung di bawah salah satu organisasi terbesar di NTB yaitu organisasi Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh seorang ulama’ karismatik yang selalu berjuang dan selalu membangun lembaga-lembaga islam di seluruh pelosok dunia, dengan tujuan menegakkan kalimat “laa ilaaha illallah” dan beliau juga tidak pernah lupa mendo’akan murid-muridnya, warga dan pencinta agar masuk surga bigairi hisab, beliau adalah TGKH. M. Zenuddin Abdul Madjid, meskipun madrasah ini dibawah naungan sebuah organisasi nahdlatul wathan, namun siswa yang belajar di madrasah ini bukan hanya dari putra putri jamaah Nahdlatul Wathan semata. Melainkan banyak dari organisasi lain pula, salah satu tujuan didirikannya madrasah ini adalah bukan hanya untuk satu golongan, namun terbuka untuk semua umat islam yang berniat menimba ilmu di madrasah tersebut.

Adapun latar belakang berdirinya Madrasah Tsanawiyah ini menurut keterangan salah seorang pelopor pendiri Pontren Miftahul Fa’izin NW ketangga adalah didirikan karena ingin membantu siswa dan orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya kesekolah yang jauh, karena madrasah tingkat Tsanawiyah/SMP yang ada di Kecamatan Suela masih sangat kurang pada saat itu para tokoh agama dan msyarakat berpikir  sebagai sekolah agama yang jangkauannya dekat dan berada di tengah perkampungan. Melihat perhatian masyarakat terhadap pendidikan agama khususnya sangat besar dan banyak anak-anak SD/MI yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi, hal itu disebabkan karena lokasi yang sangat jauh dan faktor ekonomi orang tua yang lemah. Melihat hal demikian, maka para tokoh agama dan tokoh masyarakat bersama semua anggota masyarakat bersepakat untuk mendirikan MTs NW Ketangga (Interview:TGH.M.ZAINUL MUHIBIN, QH.).

Secara lebih rinci dan jelas, hal-hal yang mendorong masyarakat membangun MTs NW Ketangga adalah:

a.         Untuk menampung anak-anak kurang mampu yang memiliki minat yang tinggi untuk melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi.

b.        Untuk menampung lulusan SD/MI yang tidak mampu melanjutkan ke sekolah-sekolah negeri.

c.         Mengingat bahwa organisasi Nahdlatul Wathan bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah, oleh karena itu untuk menciptakan kader-kader penerus masyarakat, Agama, Nusa dan Bangsa

Demikianlah sekelumit tentang latar belakang didirikannya MTs NW Ketangga Kecamatan Suela Kabupaten Lombok timur yang sampai saat ini telah menamatkan 44 angkatan dengan skala kelulusan rata-rata 100%.

Pada awal pendirian MTs NW Ketangga ini, pimpinan pondok pesantren TGH.M ZAINUL MUHIBBIN, QH, pergi bersilaturrahim kepada maulanasyaikh TGKH.M. ZAINUDDIN ABDUL MADJID di pancor, dalam rangka menyampaikan niat dan hajat para warga nahdiyyin untuk membangun sebuah lembaga islam dengan berbagai pertimbangan. Pada saat itu pimpinan pondok pesantren berangkat ke pancor dengan membawa tiga buah batu sebesar genggam yang di bungkus dengan kain putih, tujuan pimpinan pondok pesantren membawa batu tersebut kepada maulanasyaikh untuk di doa’akan, dengan harapan batu tersebut bisa menjadi pondasi madrasah yang kuat dan kokoh tentunya mendapat ridha dari allah SWT.

Setelah di do’akan, maulanasyaikh berkata: “ulekda lekan tene, da piak madrasah telu lokal” pimpinan pondok pesantren hanya mengangguk dan berkata sambil menundukkan kepala di depan maulanasyaikh: “nggih” beliaupun pulang dengan hati yang begitu lega sambil membawa batu yang sudah di do’akan, sesampainya di rumah, pimpinan pondok pesantren terkejut dan bingung melihat uang kas yang ada hanya tersisa Rp. 400.000 (Empat Ratus Ribu), tapi beliau langsung mengingat apa yang dikatakan oleh maaulanasyaikh. Dengan keyakinan yang kuat sambil mengucapkan “bismillahirrahmanirrahi” semua bangunan tiga lokal bisa rampung dan tanpa meninggalkan hutang.

siswa siswi MTs NW Ketangga mempunyai ruangan tiga lokal dan itupun tidak bisa menampung para siswa siswi yang masuk di MTs NW Ketangga, di karenakan siswa siswi terlalu banyak yang masuk di madrasah untuk menimba ilmu. Dengan kondisi seperti itu, para asatidzpun berpikir dan mencari solusi agar para siswa siswi bisa bersekolah tanpa mencari sekolah yang jangkauannya sangat jauh. Solusi ketemu dan para siswa siswi di jadwalkan ada yang masuk diwaktu pagi dan ada juga masuk di waktu siang. Setelah beberapa tahun para pengurus madrasah berhasil menambah ruang belajar dan para siswa siswi bisa bersamaan masuk sekolah di waktu pagi.

Dengan demikian patutlah kiranya sekolah ini menjadi sekolah islam yang difavoritkan di Kecamatan Suela karena telah mampu berdiri tegak dan mampu menjaring siswa siswi yang tidak sedikit jumlahnya dan memiliki fasilitas yang memadai meskipun belum semuanya ada jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum yang ada di sekitar wilayah Kecamatan Suela. Oleh karena itu segenap pengelola, para guru dan masyarakat sekitar di tuntut lebih keras dalam melaksanakan pendidikan, penuh pengabdian dan bersifat inovativ. Adapun para ulama, umaro’, dermawan dan para wali murid secara tidak langsung terlibat peran serta dalam pengelolaan dan pengembangan lembaga ini, Karena MTs NW Ketangga bukan milik satu golongan akan tetapi milik seluruh umat islam. Salah satu inisiatif/pendorong pendiri mendirikan sebuah lembaga islam dengan harapan madrasah ini mampu menjadikan anak didiknya sesuai dengan visi misinya yaitu:

a.    Visi Sekolah

“terwujudnya sekolah yang siswanya berilmu, berkualitas, beriman, dan berbudi pekerti luhur”

b.   Misi Sekolah

Berdasarkan visi diatas, misi sekolah sebagai berikut:

1.    Meningkatkan kualitas pembelajaran dan bimbingan secara evektif sehingga setiap siswa berkembang secara optimal.

2.    Meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT

3.    Meningkatkan Kedisiplinan dan etika pergaulan sesama warga sekolah.

4.    Meningkatkan mutu pendidikan.

2. Letak Geografis Obyek Penelitian.

Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Wathan Ketangga berdiri diatas tanah seluas kurang lebih 3250 M2 pada tahun 1968, termasuk di dalamnya lembaga Madrasah Diniyah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan.

Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Wathan Ketangga merupakan lembaga pendidikan yang relatif  mudah dijangkau oleh berbagai desa terutama desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Suela dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan letak MTs NW Ketangga berada di tengah-tengah kawasan Kecamatan Suela, yaitu di Desa Ketangga dan terletak di pinggir jalan dan jalan tersebut merupakan jalur umum jurusan Suela-Peringgabaya, sehingga transportasi tidak menjadi permasalahan bagi para siswa untuk menjangkaunya,

Untuk mengetahui lebih jelas letak geografis MTs NW Ketangga, penulis juga mencantumkan batas-batas wilayah sekolah ini yaitu :

b)      Sebelah utara berbatasan dengan  Masjid Syi’arul Islam

c)      Sebelah selatan berbatasan dengan perumahan penduduk

d)     Sebelah barat berbatasan dengan Perumahan penduduk

e)      Sebelah timur berbatasan dengan jalan raya jurusan suela-peringgabaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.    Struktur Organisasi MTs NW Ketangga

STRUKTUR ORGANISASI MTs

 

 

KOMITE MADRASAH

 

KEPALA MTs

W.KEPALA MTs

SYAHYUN

 

YUSI, S.Pd

 

BISMUNWADI, S.Pd

 

PENGELOLAAN PERPUS

 

PENGELOLAAN LAB

 

TATA USAHA

Murda’ah, S.Pd

 

Khaeroni, S.Pd

 

HAMDAN,S.Kom



 


UR. KURIKULUM

 

UR. KESISWAAN

 

UR. SARANA PRASARANA

 

UR.HUB MASYRAKAT

Asmuni, ss

 

Abdul Hayyi, S.Pd

 

Samsul Mujahidin, S.Pd.I

 

Saparuddin, S.Pd.I

 

 


GURU

 

GURU

1.    TGH.M.Zainul Muhibbin, QH

2.    Yusi,S.Pd

3.    Syahyun

4.    Saparuddin, S.Pd.I

5.    Abdul Hadi, QH, S.Pd.I

6.    Asmuni,Ss

7.    Mursyidin, S.Pd.I

8.    Zarkasih Hawari, S.Ag

9.    Hasrul Harahap, S.Si

10.     Baik Candra Sari, S.Pd.I

11.     Rohmatun, S.Pd

12.     Lalu Johar Putra S, Pd

13.     Lalu Desta AS, S.Pd

 

14.     Fikriati, S.Pd.I

15.     Khaeroni, S.Si

16.     Syamsul Rijal, S.Pd

17.     Syamsul Mujahidin, S.Pd.I

18.     Bismunwadi, S.Pd

19.     Murda’ah, S.Pd

20.     Abdul Hayyi, S.Pd.I

21.     Hamdan, S.Sos

22.     Ikhwan Ridwan, S.Pd

23.     Karya Abadi, QH

24.     Suparman, QH. S.Pd.I

25.     Murjiatun, S.Pd

 

WALI KELAS

OSIM MTs

4.        Keadaan Sarana dan Prasarana MTs NW Ketangga   

Gedung Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Wathan (MTs NW) Ketangga ini memiliki gedung yang permanen. Pada awal berdirinya terdiri dari empat lokal tetapi madrasah ini terus menerus mendapat berkembang sehingga sekarang jumlah lokal sebanyak 15 ruang.

Untuk lebih jelasnya mengenai gedung dan sarana prasarana yang dimiliki oleh Madrasah Tsanawiyan Nahdlatul Wathan Ketangga yang sebenarnya dapat terlihat pada Data Madrasah berikut :

Keadaan gedung dan sarana prsarana Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Wathan (MTs NW) Ketangga tahun pelajaran 2016/2017

 

PONDOK PESANTREN MIFTAHUL FAIZINNW KETANGGA

MADRASAH TSANAWIYAH  NW KETANGGA

  KECAMATAN SUELA KAB. LOTIM – NTB

 

DATA MADRASAH

1.      Nama Madrasah                                          : MTs NW Ketangga

2.      Alamat Madrasah                                        : Desa Ketangga

                                                                    : Kecamatan Suela

                                                                    : Kabupaten Lombok Timur

                                                                Provinsi NTB

3.      Tahun berdirinya                                         : 1968

4.      SK Status di Akreditasi                              : AKREDITASI (B)

5.      Piagam                                                        : 183a/BAP-SM/KP/X/2015

6.      Keadaan tanah                                            - Luas            : 3250 M2

                                 - Status                             : Wakaf

                                 - Letak                              : Desa Ketangga Kec. Suela

                            Jln. Jurusan Taman Wisata

                                                                Lemor-Ketangga-Suela

7.      Gedung             - Keadaan bangunan         : Permanen

                                 - Luas bangunan               : 798 M2

8.      Jumlah lokal                                                : 12

- Jumlah ruang belajar     : 12

- Ruang Kepala Sekolah : 1

- Ruang Tata Usaha        : 1

- Ruang Guru                  : 1

- Ruang Perpustakaan     : 1

- Ruang Laboraturium     : 1

- Ruang Osis                   : 1

- Ruang BP/BK               : 1

- Mushalla                       : 1

- Kantin                           : 1

- Kamar Mandi                : 8

-Ruang Musik                 :-

9.      Diselenggarakan pada waktu                      : Pagi dari Jam 07.15 s/d

                                                                      13.00

10.  Jumlah jam belajar perminggu                     : 46 Jam Pelajaran

11.  Jumlah Guru                                                - Guru Negeri      : Laki-laki : 1 Orang

                               Perempuan        : - Orang

- Guru Swasta                 : Laki-laki            : 18 Orang

                               Perempuan        : 5 Orang

12.  Jumlah Pegawai Tata Usaha                       : Laki-laki            : 3 Orang

                                                                            Perempan          : 1 Orang

13.  Keadaan Meublair                                       - Meja kursi siswa : 160 stel

- Meja kursi guru             : 12 stel

- Papan tulis                    : 12 buah

- Almari kelas                  : 5 buah

- Almari perpustakaan     : 9 buah

- Almari ATK                  : 4 buah

- Papan absent kelas        : 12 buah

- Papan berpetak             : 12 buah

- Piling kabinel                : 12 buah

- Jam dinding kelas         : 12 buah

- Kursi tamu                    : 2 stel

- Komputer                      : 8 buah

14.  Alat-alat Peraga - Globe                            : 2 buah

- Peta Indonesia              : 6 buah

- Peta dunia                     : 4 buah

- Kerangka manusia        : 4 buah

- KIT IPA                       : 4 buah

- KIT OPTIKA               : 2 buah

- Miskroscop                   : 3 buah

- Alat peraga matematika : 2 buah

- TV 22 in                        : 2 buah

- Lain-lain                        : 6 buah 

15.  Alat-alat Olahraga - Bola Volly                      : 4 buah

- Bola Kaki                      : 4 buah

- Len tennis meja             : 1 buah

- Lembing                        : 4 buah

- Cakram                         : 4 buah

- Tolak peluru                  : 2 buah

- Materas                         : 2 buah

- Bola Takraw                 : 2 buah

- Lain-lain                        : 10 buah

Sumber : Dikutip dari arsip lapor bulanan untuk bulan Agustus 2016 MTS NW Ketangga, 22 Oktober 2016

            Dari data di atas terlihat bahwa keadaan sarana dan  prasarana Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Wathan (MTs NW) Ketangga sudah cukup lengkap hanya saja yang terlihat kurang adalah tidak adanya ruang music atau ruaang kesenian,di karenakan belum adanya dana untuk mengadakanruangan tersebut dan alatnya belum ada untuk dipergunakanoleh para siswa-siswa.

 

Tabel 1.

Keadaan Buku Pokok MTs NW Ketangga

 

NO

KEADAAN BUKU POKOK

MA

Kls.VII

Kls.VIII

Kls.IX

Jmlh.

1

PKN

26

26

30

82

2

Al-Qur'an Hadits

26

26

30

82

3

Ke-NW-an

6

6

6

18

4

SKI

26

26

30

82

5

Nahwu,Sharaf

4

4

4

16

6

IPA Terpadu

26

26

30

82

7

IPS Terpadu

26

26

30

82

8

Matematika

30

30

30

90

9

Aqidah Akhlaq

25

25

30

80

10

TIK

25

25

30

80

11

Bahasa Inggris

26

26

30

82

12

Penjaskes

20

20

20

60

13

FIQIH

26

26

30

82

14

Bahasa Arab

26

26

30

82

15

Seni Budaya

6

6

6

18

16

Bahasa Indonesia

26

26

30

82

( Wawancara, Kepala MTs, 21 Oktober 2016)

5.    Keadaan Guru MTs NW Ketangga  

Secara keseluruhan para guru yang mengajar dan karyawan yang bekerja di MTs NW Ketangga rata-rata berasal dari S1 (Strata Satu) baik dari Universitas Agama, Universitas Negeri dan lain-lain. Di dalam lembaga ini, banyak tenaga pengajar yang cukup professional, artinya mayoritas tenaga pengajar telah menempati posisi yang sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Bahkan untuk mata pelajaran agama Islam banyak diambil dari lulusan Ma’had Darul Qur’an wal Hadits, sebuah perguruan tinggi yang khusus mengkaji ilmu agama dan ilmu-ilmu salafi lainnya.

Guru-guru MTs NW Ketangga pada tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak 25 orang yang terdiri dari 19 orang laki-laki dan 6 orang guru perempuan yang memiliki status guru tetap dan memiliki latar belakang Pendidikan yang berbeda sesuai dengan bidang tugas pokok            masing-masing. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :

 

 

 

 

 

Table 2.

Keadaan Guru MTs NW Ketangga

 

Guru  PNS

Guru Non  PNS

Pendidikan teakhir

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

S2 

 

 

 

 

 

 

SI

1

 

1

18

6

24

 DIII

 

 

 

 

0

0

 DII

 

 

 

 

 

 

 DI

 

 

 

 

 

 

 SLTA

 


 

2

 

2

Jumlah

1

 

1

20

6

26

(Sumber: Lapor Bulan September 2016)

6.    Keaadaan Siswa MTs NW Ketangga Tahun 2016 / 2017

Adapun keadaan MTs NW Ketangga pada TA. 2016/2017 terdiri dari12 kelas dengan rincian : Kelas I sebanyak 4 kelas, Kelas II sebanyak 4 kelas, dan Kelas III sebanyak 4 kelas. Dan jumlah siswa secara keseluruahan sebanyak 311 orang siswa yang terdiri dari 142 laki-laki dan 169 perempuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.

 Keadaan Siswa MTs NW Ketangga Tahun Ajaran 2016 / 2017

 

No

Kelas

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1

VII

52

68

120

2

VIII

43

55

98

3

IX

47

46

93

 

Jumlah

142

169

311

(Wawancara : Kepala MTs NW Ketangga, 21 Oktober 2016)

Sering di pertanyakan apa yang di maksud dengan karakter? Apa itu pendidikan karakter? salah seorang pendidik yang menekuni pendidikan karakter memberikan definisi yang ringkas, yakni mendeskripsikan berbagai aspek dalam pembelajaran guna mengembangkan kepribadian. Proses pembelajaran mengaitkan antara moralitas pendidikan dengan berbagai aspek pribadi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Antara lain mencakup penalaran, pembelajaran sosial dan emosional, pendidikan moral, pendidikan keterampilan hidup, memperhatikan dan menyayangi masyarakat, pendidikan kesehatan, mencegah kekerasan, mencegah dan memecahkan konflik, dan etika kehidupan. Peserta didik perlu mempelajari semua itu agar mereka dapat memecahkan permasalahan dalam mengambil keputusan dalam hidupnya dengan tepat (Gholar, 2004) [24]

Setelah adanya dan di terapkannya pendidikan karakter di sekolah, ada beberapa manfaat yang dapat diambil dalam penerapan hubungan Caracter Building antara lain;

1.      Siswa akan menjadi religius: sikap dan prilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.

2.      Akan menjadi siswa yang jujur: perilaku yang didasarkan pada upaya yang menjadikan dirinya sebagai seorang yang selalu dapat di percaya, dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.

3.      Selalu menjadi siswa yang bertoleransi: sikap dan tindakan yang selalu menghargai perbedaan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya.

4.      Menjadi disiplin: tindakan yang menunjukkan prilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5.      Menjadi: berpikir dan dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari apa yang telh di miliki. (wawancara, Kepala MTs NW Ketangga, 21 Oktober 2016).

Dari uraian di atas maka dapat dipahami bahwa manfaat hubungan Caracter Building mempunyai pengaruh yang sangat dominan dalam upaya menciptakan karakter siswa yang berbeda-beda. Dengan terciptanya sebuah karakter maka secara tidak langsung siswa sudah mulai membedakan kreatifitasnya masing-masing,  maka akan tercapai suasana pengajaran yang harmonis, tentunya dengan ini akan banyak membantu siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan guru, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam belajar.

Untuk menciptakan suasana yang membutuhkan gairah belajar, menciptakan karakter siswa, mereka memerlukan pengorganisasian proses belajar yang baik. Selanjutnya bagaimana cara guru mempergunakan sarana belajar dalam peroses belajar sehingga sumber belajar itu dapat menjadi jaya, yang biasa membawa siswa kearah yang lebih baik.

Sejalan dengan apa yang dikemukakan di atas, bahwa manfaat hubungan caracter building itu ”menciptakan karakter yang berbeda dan unik dari orang lain, sehingga terciptalah karakter-karakter yang luar biasa yang muncul dari peserta didik”

              Adapun manfaat hubungan Caracter Building pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IX di lokasi penelitian adalah:

a.       Tingkah laku siswa semakin berkembang dengan baik

b.      Loyalitas siswa dan guru semakin membaik terhadap lingkungan sekolah dan kedisiplinan siswa dalam keaktifan pembelajaran.

B.     Penyajian dan Analisis Data

 

1.  Data Hasil Observasi

Data yang di peroleh dari hasil Observasi yang peneliti lihat di MTs NW ketangga yaitu Manfaat Hubungan character building pada mata pelajaran akidah akhlak dalamrangka membentuk karakter-karakter siswa agar berbeda dengan siswa yang lain, guru menganjurkan kepada siswaa untuk terus mengembangkan karakter mereka masing-masing.  

Sesuai dengan hasil penelitian yang didapatkan dikalangan guru di MTs NW ketangga,selain menggunakan hadiah untuk meningkatkan  tingkah laku yang baik kepada siswa, guru juga menggunakan langkah-langkah yang bisa menumbuhkan tingkah laku siswa.

Langkah-langkah yang digunakan dalam meningkatkan dan membangkitkan minat belajar sehingga tingkah laku siswa di MTs NW ketangga semakin baik:

-          Guru menerangkan tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar, sehingga siswa mengetahuinya secara pasti dan meyakinkan

-          Guru memberikan pujian kepada setiap siswa sehingga dapat mengubah tingkah laku semua siswa ,tetapi tidak memberikan pujian yang terlalu berlebihan kepada siswa.

 

 

2.   Data Hasil Wawancara

Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah MTs NW ketangga, peneliti dapat mengetahui lebih jelas bahwa para siswa memahami arti pentingnya memiliki tingkah laku yang baik bagi dirinya pribadi, maupun lingkungan masyarakat,

Siswa memahami arti penting mempelajari tingkah laku yang baik dalam kehidupan terutama dalam menghadapi perkembangan di eraglobalisasi. Sebaliknya memberikan hadiah dengan barang-barang yang bermamfaat atau yang bisa membangkitkan motivasi/ minat belajar mereka,maka dengan memberikan hadiah mereka akan jauh lebih merasa di perhatikan dan dengan begitu minat belajarnya akan semakin meningkat dan rasa tanggung jawab terhadap tingkah lakunya akan lebih baik, karna dengan adanya bantuan tersebut maka siswa bisa termotivasi untuk lebih giat dalam belajar,

Dari pembahasan diatas dipahami bahwa tugas guru di sekolah adalah tidak hanya membentuk siswa dengan karakter yang baik yang dapat menyeimbangkan antara tingkah laku yang dihasilkan untuk dirinya dan tingkah laku yang dihasilkan untuk orang lain yang akhirnya dapat bermamfaat bagi lingkungannya,khususnya bagi dirinya sendiri. Namun guru juga bertugas untuk memahami apa kebutuhan siswa ketika dalam pembelajaran, minat belajar siswa dalam meningkatkan prestasinya melalui jalur kegiatan belajar, guru dalam hal ini memberikan petunjuk prestasi kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar di sekolah hingga ia mengerti dan memeahami dirinya dan ahirnya memahami prestasinya.

 

C.PEMBAHASAN

1.      Manfaat Hubungan Cracter Building Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas IX MTs NW Ketangga

       Dengan kemajuan dan pertumbuhan ilmu pengetahuan yang luar biasa cepatnya (Khususnya Dunia Barat), sehingga negara-negara yang sedang berkembang dan para sarjana terpontang panting ketinggalan pertumbuhan ilmu itu hanya dapat diikuti oleh para siswa kalau mereka memperoleh pendidikan di sekolah yang lengkap dengan perpustakaan, menerima dari guru yang profesional dan juga siswa yang harus melakukan proses atau kegiatan belajar secara teratur (memiliki kebiasaan belajar yang tepat guna menjadi siswa yang berprestasi).

       Siswa yang berprestasi harus bekerja lebih banyak dan berusaha lebih tekun dalam belajarnya(menghidupkan semangat kebiasaan belajar secara bersama-sama atau kelompok). Hanya dengan berusaha lebih serius menstimulus kebiasaan belajar secara teratur, mereka kelak akan menjadi siswa yang berprestasi dan dengan demikian siswa tidak ketinggalan dalam dunia pengetahuan.

       Siswa tidaklah cukup hanya mencapai prestasi saja selama belajar di sekolah, melainkan harus bertekad dan berikhtiar agar menjadi siswa yang berprestasi dan berkarakter. Seorang siswa yang berprestasi dan berkarakter ialah siswa yang semangat untuk maju dan penuh gairah melakukan belajar menguasai keterampilan yang baik untuk melakukan belajar secara tangkas dan yang setiap hari hendaknya terutama di tunjukkan untuk membentuk dan mengembangkan berbagai kebiasaan belajar yang baik pada diri siswa, sedangkan siswa yang berkarakter ialah siswa yang mampu memahat dirinya menjadi unik dan berbeda dengan orang lain utuk mencapai suatu kesuksesan yang berbeda dari orang lain.

       Dalam pengertian yang umum kebiasaan menunjuk pada prilaku dipelajari yang telah tertanam dalam diri sampai titik yang tiada pikiran sadar yang di perlukan untuk menjalankan. Kebiasaan yang baik memainkan peran yang penting bagi para siswa yang berprestasi. Kecerdasan tidak di anggap sebagai paktor yang utama untuk menciptakan karakter yang berbeda tetapi tentu saja inteligence yang tinggi kalau di dukung kebiasaan belajar yang teratur di landasi minat yag besar pasti akan mendapatkan prestasi dan karakter dalam kegiatan pembelajaran.  

Dalam hal ini penulis akan memaparkan apa yang menyebabkan karakter siswa tidak bisa berkembang dalam pembelajaran akidah akhlak yang dilaksanakan setiap harinya,dan apa sajalangkah-langkah yang harus dilakukan untuk membentuk sebuah karakter yang berbeda-beda bagi siswa-siswi MTs NW ketangga, karena dengan adanya karakter kita bisa membedakan karakter masing-masing siswa yang kita teliti.

2. Apa saja yang menyebabkan karakter siswa tidak bisa berkembang di MTs NW Ketangga

Yang menyebabkan karakter siswa tidak bisa berkembang salah satu faktornya adalah:

a.    Keikutsertaan orang tua dalam membentuk karakter siswa dalam peroses pembelajaran

b.   teman bergaul yang tidak sesuai dalam perilaku sehari-hari

c.    belum ada penanganan khusus dalam pembentukan karakter siswa yang terdapat dalam sekolah

d.   kurangnyakontrolorang tua dan guru kepada siswa yang butuh ppengontrolan.

3.      Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk membentuk karakter siswa MTs NW Ketangga

Dari hasil observasi peneliti,ada beberapa faktor yang harus dilakukan untuk bisa membantu siswa untuk membentuk karakter mereka yakni :

1.      Lingkungan sekolah diatur sedemikian rupa ,sehingga siswa terasa nyaman dan rasa kenyamanannya itu sehingga menciptakan perilaku yang positif dan bisa membentuk karakter siswa dalamperoses pembelajaran

2.       Guru memberikan reward/hadiah ketika siswa mendapatkan nilai bagus pada saat pembelajaran dapat memberikan motivasi dan memicu anak untuk berprilaku yang baik.

3.      Memberikan pujian kepada anak bisa dijadikan alat motivasi dimana seorang anak akan senang bila dipuji oleh guru sehingga mereka lebih semangat dan tekun dalam belajar.Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar sekaligus akan membangkitkan harga diri. Demikian juga dengan anak akan lebih bergairah bila hasil pekerjaan dipuji dan diperhatikan. Dalam hal ini perubahan tingkah laku siswa akan menjadi lebih baik

4.      Pemberian hukuman kepada anak terkadang bisa berdampak negatif tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak maka hukuman bisa dijadikan alat untuk merubah tingkah laku siswa tersebut, dimana hukuman itu hanya diberikan oleh guru dalam konteks pendidikan dan perbaikan.

            Dalam hal ini guru juga akan memberikan motivasi dan memberikan pelajaran bagaimana siswa harus berprilaku yang baik ,disamping itu juga guru harus mempunyai minat yang tinggi serta tanggung jawab moral kepada peserta didik.oleh karena itu apabila menginginkan siswa itu berprilaku yang baik hendaknya memperlakukan siswa sesuai dengan hak-haknya.

Untuk mendapatkan data yang telah di peroleh sesuai dengan judul penelitian yaitu manfaat hubungan character building pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IX MTs NW Ketangga tahun pelajaran 2016/2017.  maka penulis mempergunakan beberapa langkah sebagai berikut.

1.Langkah-langkah analisis

Dalam penyajian dan analisa data pada penelitian ini menggunakan sample sebanyak 15 Siswa MTs NW ketangga tahun pelajaran 2016/2017

Selanjutnya dalam menganalisa data dari hasil angket dianalisa dengan rumus sebagai berikut

 

 

 

                                             Keterangan   

       rxy = Konfensien Korelasi antara X dan Y

 xy = Produk dari X dan Y

        =  Hasil pengkuadratan dari variabel x    

        =  Hasil pengkuadratan dari variabel y

Dari penelitian yang di lakukan,maka yang terkumpul tentang manfaat hubungan character building pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IX MTs NW Ketangga tahun pelajaran 2016/2017 sebagai berikut:

 

TABEL 4

Nama siswa kelas IX A yang di pilih sebagai sample

NO

Nama siswa kelas IX.A

1

Abdurrahman

2

Abdulmuis

3

Ahmad budiman

4

Akhyar rosyidi  

5

Alma destiani

6

angina dian purnama

7

Afdaelani

8

Ardiyana febriyani

9

Armiyatul aini

10

Bayu surya abdi

11

Bq. elindasofiana

12

Dewi hariyati

13

Dina kamila

14

Emayanti

15

Ena yuliani

 TABEL IV

Hasil Tentang manfaat hubungan character building pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IX MTs NW Ketangga

tahun pelajaran 2016/2017

1.      Uji Validitas

 

NO

 

Nama Responden

Nomor Butir Soal

 

Skor total

Cara I

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Awal (x)

Akhir (y)

1

Ahmad rosyidi

3

2

4

3

4

2

1

3

4

3

29

16

13

2

Dene nindis weri

4

3

4

2

4

4

3